Kali ini, kontemplasi Tentang hujan…

Ada yang marah jika hujan tiba. Pekerjaan terhenti, niat terhalangi. Cemas, bahkan caci terlontar begitu saja, sepertinya hujan mejadi musuh karena menghalangi mereka bertemu peradaban… Padahal hanya untuk sementara, bukankah hujan pasti reda. Memang lama, cukup lama, bahkan terlalu lama, menunggu hujan berhenti mendera, namun setelahnya tentu kehidupan akan terus melaju, selalu…
Dan bagiku hujan adalah kehidupan,,, berlebihan? semoga saja tidak… Kehidupan yang penuh debu, liku dan akhirnya kita menemukan ujung, reda. Sama seperti hujan yang dipenuhi kilat, awan kelabu, juga gemuruh, akhirnya mereka akan tetap diam, berlalu dan luruh… pun kita yang pada akhirnya juga akan diam, selamanya…Kali ini, Tentang hujan...

Begitu banyak misteri yang tak sempat kutuliskan, belum lagi kegelisahan yang datang begitu saja, atau ketakutan bahwa suatu saat nanti akan datang hujan yang tak pernah reda…

Hidup yang sinis…
Sentimentil, tragis…

demi…Kali ini, Tentang hujan...

Ada yang melenakan diri saat hujan, bercengkrama dengan mimpi dalam tidur yang lelap. Tak sedikit yang terjaga, menikmati dingin, berbicara pada diri sendiri dan melihat ke dalam, jauh ke dalam. Hujan tentu menyediakan jawabannya sendiri bagi tiap pertanyaan tentang kehidupan, juga akan membawakannmu setetes inspirasi. Ia akan mengabarkannya lewat angin dan rinai yang menyadapa diluar jendela, juga pada firasat yang menelusup tiba-tiba. Ya, Firasat… tentu kita pernah menerimanya, pesan yang tiba-tiba saja datang, lewat lamunan dan gejala alam, namun seringkali kita abai dan pura-pura tak mengerti.
Mari belajar jadi peka…

setetes…

Begitulah, aku teramat suka pada hujan. Sama seperti banyak orang lain ditempat yang berbeda.
Entah karena selalu menerobosnya saat bepergian, atau karena hujan tak pernah bosan menyembuhkan, entahlah…

Nikmatilah, selagi masih diberi kesempatan…
Teruslah belajar, termasuk pada deras hujan…

yang selalu turun…

setetes…

Hujan, aku menyukainya, entah mengapa…
Ada perasaan-perasaan yang hanya aku temukan saat hujan turun, kenangan dan memori akan berlompatan begitu saja di kepalaku, sementara di luar sana guruh menderu. Masa lalu yang biru, atau tirai ungu bernama impian akan sangat nyaman jika dinikmati kala hujan. Senyap yang menyergap. titik-titik air, kemudian lengang, sendirian…

Article Source : Kali ini, Tentang hujan...

Jika fotomu kurang bagus, kamu kurang dekat

Dan pada praktiknya untuk mendapatkan hasil bagus menurut saya, kita tidak boleh takut untuk mendekat, berbincang dengan objek, terjun ke sungai untuk merasakan apa yang objak rasakan, bersatulah dengan alam…Jika fotomu kurang bagus, kamu kurang dekat

Robert Capa, fotografer perang legendaris pernah bilang:

If your pictures aren’t good enough, you aren’t close enough.
(Jika fotomu kurang bagus, kamu kurang dekat)

foto di atas tanpa di edit gimana-gimana, just framing n resize…  natural…

Ini beberapa hasil praktek saya…

Sedangkan apa yang saya rasakan adalah mengenai hubungan antar manusia sendiri. Kalau subjek foto merasa kita adalah orang asing, maka sulit mendapatkan foto yang bagus karena orang-orang akan berprilaku tidak alami di depan kamera. Tapi kalau kita mendekatkan diri secara perasaan, maka kemungkinan besar kita akan mendapatkan foto yang lebih alami.

*note :  artikel di atas mungkin berguna, dan sumbernya berada di sini.  Sudah minta izin buat copy ke sini. …

David duChemin, seorang fotografer travel  berpendapat sedikit lain, David berpendapat bahwa tidak masalah diambil dari jauh asal elemen-elemen yang mengganggu tidak diikutsertakan dalam komposisi foto, misalnya dengan lensa telephoto zoom.

atau kejarlah objek jika memank kamu menginginkan komposisi yang pas… jangan menyerah, meskipun harus naik gurung,,, hehehe

semoga berkenan,

Jika fotomu kurang bagus, kamu kurang dekat

Kutipan ini memiliki arti yang cukup dalam dan bisa di interpretasikan dari berbagai sudut pandang. Secara literal, fotografer harus dekat dengan objek fotonya. Ini masuk akal karena banyak pemula yang mengambil gambar dari jarak yang terlalu jauh sehingga banyak elemen dalam bingkai foto yang mengganggu. Maka dari itu, di dalam fotojurnalisme, lensa favorit adalah lensa yang lebar karena bisa mengambil gambar dengan dekat.

Article Source : Jika fotomu kurang bagus, kamu kurang dekat

http://www.infofotografi.com/blog/2009/07/robert-capa-kutipan/

Banjarbaru Malam Itu…

Tegak Lurus Ke LangitBanjarbaru Malam Itu...

salam…

kalau ada tempat rahasia yang bagus di sekitar Martapura, Banjarbaru, dan sekitarnya… boleh juga dijepret…

Saya suka nge-blog, meskipun kadang tak terurus karena sibuk, tak ada koneksi, atau tak punya semangat. Namun sebisa mungkin untuk tetap menengok blog kesayangan ini, blog memerlukan foto. Karena itulah saya berfikir bahwa korelasi antara nge-blog dan me-motret cukup erat dan bisa saling melengkapi.
Di antara banyak aliran fotografi, saya begitu tergila-gila pada Landscape. Berbekal lensa normal atau lensa Kit bawaan D3000, maka jadilah petualangan sederhana di mulai.
Kadang kita tak sempat menikmati begitu indahnya malam, maka bagi warga Banjarbaru. Saya hanya ingin menawarkan sedikit indahnya Tugu Bundaran Simpang Empat yang seharusnya sudah sejak dulu selesai.
Semoga suka….
Terus Belajar….Banjarbaru Malam Itu...

Akhir-akhir ini saya lagi ‘gila’ moto. Dari dulu memang menyukai dunia fotografi, karena kadang kala memang “moment lebih bergarga dari materi”. Moment akan membekas lama dan bisa kita putar ulang satu saat nanti. Setelah cukup lama dan cukup membanting tulang , tulang sapa nih? akhirnya punya kamera SLR meskipun yang biasa saja, terwujud juga. Jadilah saya sering tercecer di jalan-jalan demi memuaskan hasrat fotografi amatiran. Tambah item memang, kurusan juga, tapi tetap ganteng.

* cuma 2 foto, tunggu aza nanti, sabar, hehehehe

Article Source : Banjarbaru Malam Itu...

http://www.infofotografi.com/blog/2009/07/robert-capa-kutipan/

Protection Plugin created by Jake Ruston - Sponsored by Wonder Washer.