Catatan Perjalanan
Eksotisme Pulau Catatan Perjalanan Datu
Mar 6th
salam…Eksotisme Pulau Datu
Yang saya potret adalah sisi lain dari pulau yang tak punya aliran listrik tersebut. Bayangkan, hanya dengan satu senter kecil mengendap-endap di pulau yang bagaimanapun juga tetap agak mistis, hiiii….
Berbekal kamera dan tripod ala kadarnya, maka eksotisme pulau datu saya coba rekam dalam gambar sederhana ini, anggap saja sebagai oleh-oleh…
Fotografi alam (landscape) memang luar biasa, sensasi menunggu debur ombak, sholat di atas karang, laut yang indah, kebeasan dan rasa ‘wah di dalam hati. Membuat saya sangat menyukai Landscape dan variannya.
Foto-foto nya masih pemula, banyak kekurangannya. Salam
Tanggal 21 Februari kemarin mendadak ada seorng teman yang ngajak ke Pulau datu. Pulau ini harus di tempuh selama kurang lebih 2,.5 jam dari kota Martapura. Tentunya bagi mereka yang sering ke pantai Batakan sudah tau dengan pulau ini, karena dari pantai Batakan Pulau Datu sudah terlihat. 3 orang ini berangkat dari Martapura sekitar jam 2 siang dan sampai ke Pulau Datu sekitar setengah 5. Tentunya untuk sampai ke sana harus menyeberang dulu sekitar 30 menit, dengan biaya 75 ribu rupiah. Cukup lah olah raga jantung karena ombak yang deras dan diri yang tidak bisa berenang ini hanya bisa pasrah
Kami di sana kira-kira sampai pukul 8 malam, karena ini mencoba foto malam dan stra trail. Namun langit malam tak begitu mendukung. Pengalam ini saya bagi agar kita semakin sadar alam kita tak kalah indah dengan daerah lain. Juga karena blog baru saja sembuh, sekarang baru bisa menulis blog lagi
Eksotisme Pulau Datu
Di Pulau Datu terdapat sebuah makam yang dipercaya sebagai makam seseorang yang menyebarkan Agama Islam di daerah tersebut, sewaktu meninggal beliau minta dikuburkan di sebuah pulau yang sekarang di namai Pulau Datu.
Article Source : Eksotisme Pulau Datu
Sedetik Waktu
Jul 5th
“Akhirnya” Sebuah kata yang mengiringi tapak langkahku ke sebuah pantai di derahku. Setelah seminggu lebih berkutat dengan kerasnya tes-tes akhir semester dan setumpuk masalah yang cukup menyesakkan dada. Sedetik Waktu
Bermain air, angin laut yang lembut, ternyata mampu memberikan kedamaian yang luar biasa. Berlari sejenak dari akutnya kehidupan kota. Aku memang sangat menyenangi mendaki gunung, sejak SMA sudah gabung dalam kelompok pecinta alam. Saking gilanya, pernah tiap satu minggu sekali naik ke gunung. Namun setelah kuliah, perlahan hidup terasa semakin sulit. Akhirnya waktu untuk berdamai dengan alam semakin tersita bersama hidup yang semakin melelahkan untuk dilewati.
Sebenarnya sudah sekian lama aku merindukan pergi ke suatu tempat yang menawarkan kenyamanan hati seperti pantai atau gunung. Cukup lama ketika aku terakhir kali ke pantai, entah mengapa tetapi aku merindukan riak ombak yang mengajakku tersenyum bersama bias matahari. Hhhh…
Article Source : Sedetik Waktu
http://awym.files.wordpress.com/2008/10/berangkat.jpghttp://awym89.files.wordpress.com/2008/07/sany02681.jpg






Mereka Yang Bersuara