Eksotisme Pulau Catatan Perjalanan Datu

Kami di sana kira-kira sampai pukul 8 malam, karena ini mencoba foto malam dan stra trail. Namun langit malam tak begitu mendukung. Pengalam ini saya bagi agar kita semakin sadar alam kita tak kalah indah dengan daerah lain. Juga karena blog baru saja sembuh, sekarang baru bisa menulis blog lagi :P Eksotisme Pulau Datu

salam…

Di Pulau Datu terdapat sebuah makam yang dipercaya sebagai makam seseorang yang menyebarkan Agama Islam di daerah tersebut, sewaktu meninggal beliau minta dikuburkan di sebuah pulau yang sekarang di namai Pulau Datu.

Yang saya potret adalah sisi lain dari pulau yang tak punya aliran listrik tersebut. Bayangkan, hanya dengan satu senter kecil mengendap-endap di pulau yang bagaimanapun juga tetap agak mistis, hiiii….

Berbekal kamera dan tripod ala kadarnya, maka eksotisme pulau datu saya coba rekam dalam gambar sederhana ini, anggap saja sebagai oleh-oleh…

Foto-foto nya masih pemula, banyak kekurangannya. Salam

Fotografi alam (landscape) memang luar biasa, sensasi menunggu debur ombak, sholat di atas karang, laut yang indah, kebeasan dan rasa ‘wah di dalam hati. Membuat saya sangat menyukai Landscape dan variannya.Eksotisme Pulau Datu

Tanggal 21 Februari kemarin mendadak ada seorng teman yang ngajak ke Pulau datu. Pulau ini harus di tempuh selama kurang lebih 2,.5 jam dari  kota Martapura. Tentunya bagi mereka yang sering ke pantai Batakan sudah tau dengan pulau ini, karena dari pantai Batakan Pulau Datu sudah terlihat. 3 orang ini berangkat dari Martapura sekitar jam 2 siang dan sampai ke Pulau Datu sekitar setengah 5. Tentunya untuk sampai ke sana harus menyeberang dulu sekitar 30 menit, dengan biaya 75 ribu rupiah. Cukup lah olah raga jantung karena ombak yang deras dan diri yang tidak bisa berenang ini hanya bisa pasrah :(

Article Source : Eksotisme Pulau Datu

http://www.infofotografi.com/blog/2009/07/robert-capa-kutipan/

Ma, Ajari Aku Ketegaranmu

Tadi siang saya pergi ke kampus, hampir satu jam di perjalanan. Dan apa yang saya lakukan di jalan, MEWEK… yap, saya sedikit menangis. Karena apa? Entah mengapa saya teringat mama, orang yang baru saja saya kecup tangannya ketika berangkat. Selama dalam perjalanan terulang-ulang kisah yang saya saksikan sendiri,  serta kisah yang diceritakan oleh mama. Dan dari banyak cerita itu, kesimpulan pertama saya adalah “Mama saya orang yang tegar”. Beberapa penggal kisah itu lah yang ingin saya tulis sederhana, karena takut terlupa dan tercecer begitu saja. More > Ma, Ajari Aku Ketegaranmu

Article Source : Ma, Ajari Aku Ketegaranmu

http://www.infofotografi.com/blog/2009/07/robert-capa-kutipan/

Kali ini, Tentang hujan…

Begitu banyak misteri yang tak sempat kutuliskan, belum lagi kegelisahan yang datang begitu saja, atau ketakutan bahwa suatu saat nanti akan datang hujan yang tak pernah reda…Kali ini, Tentang hujan...

demi…

Begitulah, aku teramat suka pada hujan. Sama seperti banyak orang lain ditempat yang berbeda.
Entah karena selalu menerobosnya saat bepergian, atau karena hujan tak pernah bosan menyembuhkan, entahlah…

yang selalu turun…

setetes…

Ada yang marah jika hujan tiba. Pekerjaan terhenti, niat terhalangi. Cemas, bahkan caci terlontar begitu saja, sepertinya hujan mejadi musuh karena menghalangi mereka bertemu peradaban… Padahal hanya untuk sementara, bukankah hujan pasti reda. Memang lama, cukup lama, bahkan terlalu lama, menunggu hujan berhenti mendera, namun setelahnya tentu kehidupan akan terus melaju, selalu…
Dan bagiku hujan adalah kehidupan,,, berlebihan? semoga saja tidak… Kehidupan yang penuh debu, liku dan akhirnya kita menemukan ujung, reda. Sama seperti hujan yang dipenuhi kilat, awan kelabu, juga gemuruh, akhirnya mereka akan tetap diam, berlalu dan luruh… pun kita yang pada akhirnya juga akan diam, selamanya…

Ada yang melenakan diri saat hujan, bercengkrama dengan mimpi dalam tidur yang lelap. Tak sedikit yang terjaga, menikmati dingin, berbicara pada diri sendiri dan melihat ke dalam, jauh ke dalam. Hujan tentu menyediakan jawabannya sendiri bagi tiap pertanyaan tentang kehidupan, juga akan membawakannmu setetes inspirasi. Ia akan mengabarkannya lewat angin dan rinai yang menyadapa diluar jendela, juga pada firasat yang menelusup tiba-tiba. Ya, Firasat… tentu kita pernah menerimanya, pesan yang tiba-tiba saja datang, lewat lamunan dan gejala alam, namun seringkali kita abai dan pura-pura tak mengerti.
Mari belajar jadi peka…

Hujan, aku menyukainya, entah mengapa…
Ada perasaan-perasaan yang hanya aku temukan saat hujan turun, kenangan dan memori akan berlompatan begitu saja di kepalaku, sementara di luar sana guruh menderu. Masa lalu yang biru, atau tirai ungu bernama impian akan sangat nyaman jika dinikmati kala hujan. Senyap yang menyergap. titik-titik air, kemudian lengang, sendirian…

Hidup yang sinis…
Sentimentil, tragis…

setetes…

Nikmatilah, selagi masih diberi kesempatan…
Teruslah belajar, termasuk pada deras hujan…Kali ini, Tentang hujan...

Article Source : Kali ini, Tentang hujan...

http://www.infofotografi.com/blog/2009/07/robert-capa-kutipan/